Saturday, April 18, 2015

Mau Dibawa Kemana Diri Anda Setelah Kuliah?

Secara menarik, Stephen Covey, penulis buku bestseller, The 7 Habits of Highly Effective People (Binarupa Aksara) menunjukkan sebuah potret yang cukup memiriskan berkaitan dengan para mahasiswa yang selesai menamatkan pemelajarannya di perguruan tinggi. Dia menulis demikian, "Sebagian besar dari perkembangan mental kita dan disiplin studi kita berasal dari pendidikan formal. Akan tetapi, segera sesudah kita meninggalkan disiplin eksternal sekolah, banyak dari kita membiarkan otak kita terhenti pertumbuhannya.
Kita tidak lagi membaca secara serius, kita tidak lagi menjajaki subjek baru secara mendalam, di luar tindakan kita, kita tidak berpikir secara analitis, kita tidak menulis--sedikitnya tidak kritis atau tidak dengan cara yang menguji kemampuan kita mengekspresikan diri di dalam bahasa yang baik, jelas, dan ringkas.
Sebaliknya, kita malah menghabiskan waktu kita untuk menonton televisi."

Padaha, Stephen Krashen (profesor emeritus dari University of Southern California, dia adalah seorang ahli bahasa dan peneliti pendidikan) mengatakan kebiasaan menonton televisi yang tidak diimbangi dengan kegiatan membaca buku akan menyebabkan orang yang terbiasa menonton televisi menjadi "miskin bahasa" alias tidak mampu untuk merumuskan dan mengungkapkan keinginannya dalam bahasan yang canggih.


*** Efvy just for sharing ***

Thursday, April 16, 2015

Informasi, Ilmu Pengetahuan, & Kebijakan

Empat orang sahabat menemukan sekeping mata uang. Orang pertama, seorang persia, berkata, "Dengan mata uang ini, aku akan membeli angur." Orang kedua, seorang Arab, menyatakan keberatannya, "Tidak, kita harus membeli inab." Orang ketiga, seorang Turki mengatakan, "Aku tidak ingin inab, aku menginginkan uzum." Sementara itu, yang terakhir, seorang Yunani, mengatakan bahwa ia tidak tertarik pada apa yang ditawarkan oleh tiga orang sahabat sebelumnya. "Aku," katanya, "ingin kita membeli stafili."

Kita dapat membaca anekdot tersebut dalam Matsnawi karya Jalaludin Rumi. Lewat buku-menariknya, Tantangan Dunia Islam Abad 21: Menjangkau Informasi. Ziauddin Sardar kemudian menggunakan kisah di atas untuk membahas pentingnya menyusun sebuah strategi informasi di Dunia Muslim dalam kerangka tiga unsur kunci: informasi, ilmu pengetahuan, dan kebijakan. Mari kita smika penjelasan Sardar.

Maulana Rumi menceritakan bahwa karena keempat orang sahabat itu tidak mengetahui arti di balik apa yang dikatakan masing-masing, mereka kemudian terlibat pertengkaran. Mereka memiliki informasi, tetapi tidak memiliki pengetahuan.

Ketika pertengkaran sedang memuncak, lewatkan seorang yang bijaksana. Orang ini kemudian mendamaikan para sahabat yang sedang bertengkar tersebut, dan berkata, "Aku bisa memenuhi keinginan kalian semua dengan uang yang kalian temukan. Syaratnya, kalian harus percaya dengan sepenuh hati. Sekeping uang ini akan memenuhi keempat kebutuhan kalian, dan kalian berempat akan rukun kembali."

Demikianlah, orang bijak itu kemudian pergi dan membeli buah anggur. Begitu ia kembali, keempat orang sahabat itu menjadi gembira. Ternyata, semua mereka, dengan bahasanya masing-masing, telah menyatakan kebutuhannya akan hal yang sama, yaitu anggur.

Anekdot dari Maulana Rumi ini merupakan suatu upaya yang jelas untuk membeda-bedakan tiga konsep: informasi, ilmu pengetahuan, dan kebijakan.

Informasi digambarkan di sini sebagai keinginan empat orang sahabat untuk makan angur, inab, uzum, dan stafili. Keinginan ini dapat diartikan sebagai "fakta-fakta" yang tidak tertata dan tidak berhubungan satu sama lain.

Orang bijak yang dapat meredakan pertengkaran mereka itu mampu menyusun fakta-fakta ini menjadi sebuah kesatuan informasi yang tertata berkat pengetahuan yang dimilikinya. Dan berkat kebijakannya, ia mampu menerapkan pengetahuannya--dengan informasi yang sepenuhnya telah diasimilasikan--untuk menghasilkan keputusan yang adil dan penuh pengertian.


*** Efvy just for sharing, diambil dari buku "Vitamin T", by Hernowo ***

Monday, March 30, 2015

Kapan Terakhir Kali Anda Mengucapkan Syukur?

Biasanya sebagai manusia akan bersyukur ketika mendapatkan sesuatu, misalnya saat menerima hadiah, bonus, duit dan sebagainya.

Dalam agama, orang yang bersyukur itu akan diberi tambahan nikmat dari nikmat yang sudah ada atau akan diberi nikmat yang baru. Nikmat Tuhan itu banyak dan saking banyaknya itu sehingga tidak bisa dihitung. Tetapi, perlu dicatat bahwa nikmat Tuhan itu ada yang berbentuk potensi atau alat dan ada yang berbentuk hasil. Ada nikmat Tuhan yang langsung bisa dipakai (misalnya panca indera, kesehatan, alam, dll). Tetapi ada juga nikmat Tuhan yang harus digapai (misalnya prestasi, power, kedudukan, kehormatan, dan kekayaan, dll).

Sering kali kita mengucapkan syukur tatkala menerima sesuatu saja. Dan betapa sering kita lupa dengan apa yang melekat pada kita untuk kita syukuri. Sebagai contoh kecil, banyak dari kita jarang, bahkan hampir tidak pernah mengucapkan syukur akan nikmat kesehatan. Kita menganggap kesehatan bukanlah rezeki. Sekarang apa yang terjadi, tatkala nikmat sehat tersebut dicabut, berapa banyak biaya dan uang yang dikeluarkan untuk membelinya supaya kita sehat kembali.

Ternyata, bersyukur itu tidak hanya tatkala kita mendapatkan sesuatu. Tetapi juga dengan apa yang ada saat ini. Mari kita bersyukur setiap hari.



*** Efvy in Refleksi Diri ***

Friday, March 20, 2015

Membalik Teori Abraham Maslow

Konon, sebelum wafat, Abraham Maslow sempat menunjukkan penyesalannya. Teori motivasi yang digagasnya itu mestinya perlu direvisi. Apanya yang perlu direvisi? Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya Spiritual Capital, Hirarki kebutuhan yang digagasnya mestinya perlu dibalik.

Seandainya itu benar-benar kejadian, maka yang paling bawah bukanlah kebutuhan fisik (fisiologis) melainkan aktualisasi-diri. Jadi, yang harus lebih dulu dijadikan sumber motivasi seseorang bukanlah kebutuhan perutnya, melainkan kebutuhan untuk berprestasi. Jika orang selalu berusaha untuk memuaskan dahaga berprestasinya, maka seluruh kebutuhan lain, secara otomatis akan terpenuhi sendiri. Buktinya, tidak ada orang yang prestasinya naik terus tetapi kelaparan, status sosial rendah, dan semisalnya. Yang sering terjadi adalah kebalikannya.

Maslow menyesal karena teorinya ini telah mengilhami banyak orang untuk menjdai tamak dan terus-terusan memikirkan kebutuhan fisiknya, kebutuhan hewaniyahnya. Banya, kita jumpai orang yang secara ekonomi (sangan, pangan, papan) sudah lebih dari cukup, tetapi malah semakin rakus, misalnya koruptor.
Di sisi lain, seperti yang kerap kita dengar, teori ini juga banyak “dimanfaatkan” oleh orang-orang malas untuk menjustifikasi kemalasannya dengan alasan kebutuhan fisik. Orang menjadi malas mengaktualisasikan potensinya atau bakatnya dengan menuding kemiskinan. Kemiskinan memang masalah, tetapi kalau orang tidak tergerak untuk menggunakan potensinya karena alasan miskin, ini lebih masalah lagi.

Hal ini pula yang menyebabkan kebanyakan karyawan hanya semangat kerja sewaktu awal-awal masuk saja. Karyawan baru itu pasti umumnya semangat karena kebutuhannya akan fisik, keamanan, dan harga diri (terbebas dari pengangguran) terpenuhi. Tapi begitu setahun berlalu, dinamika jiwanya menuntut perubahan baru, misalnya: ingin gaji lebih tinggi, ingin diperlakukan lebih istimewa, dan sebagainya.

Jadi, mari kita membalik teori Abraham Maslow maka semua kebutuhan kita yang dibawahnya akan terpenuhi secara otomatis

*** Efvy in Refleksi Diri ***

Sunday, March 15, 2015

Rahasia Supaya Selalu Beruntung

Kalau kita menelaah praktek hidup, keberuntungan itu bukanlah sesuatu yang sifatnya magis (irasional), tetapi lebih merupakan sesuatu yang sifatnya beyond rational. Karena itu, pengalaman salah satu mantan presiden Amerika, Thomas Jefferson pernah mengatakan: "Saya termasuk orang yang meyakini keberuntungan dan saya merasa bahwa semakin giat saya bekerja semakin banyak keberuntungan yang saya miliki."

Praktek hidup sudah membuktifkan bahwa keberuntungan itu lebih sering mendatangi seseorang yang mengandalkan usaha kerasnya ketimbang yang mengandalkan nasib baik saja.

Jadi, jika anda ingin selalu beruntung maka teruslah berusaha. Semakin giat anda bekerja keras semakin banyak pula keberuntungan yang mendekati anda.


*** Efvy, just sharing ***

Saturday, March 14, 2015

Gaya Berpikir

Setiap gaya berpikir memiliki kekuatan unik yang bisa kita gunakan untuk memahami cara kita belajar dan melihat manfaat dari pemikiran orang lain.

Pemikir Terstruktur
Pemikir Terstruktur memproses informasi dengan cara teratur dan selangkah demi selangkah. Dunia mereka konkret dan nyata, terdiri dari hal-hal yang bisa mereka lihat, sentuh, dengar, rasa, dan baui. Mereka perfeksionis yang berorientasi pada detail dan belajar saat melakukan. PT jago dengan tanggal, fakta, rumus dan daftar.

Pemikir Eksplorasi
Seperti pemikir terstruktur, pemikir eksplorasi hidup dalam dunia yang konkret dan nyata. Tapi, perilaku mereka lebih tidak terstruktur dan menyukai eksperimen. Mereka lebih kreatif dan terbuka pada lompatan intuitif, dan bukan pendekatan PT yang selangkah demi selangkah. Saat mengerjakan proyek, mereka kadang lebih asyik dengan proses daripada hasilnya. Kadang, mereka tak menyadari waktu dan tak bisa menyelesaikan sesuai tenggat waktu, tapi mereka juga mencari cara kreatif baru untuk bertindak dan suka mengeksplor ide-ide dan sistem baru.

Pemikir Fleksibel
Pemikir fleksibel hidup di dunia perasaan dan emosi. Kebanyakan orang menganggap PF sebagai “ramah”. Mereka perlu waktu untuk merenung dan meresapi informasi baru sebelum membuat keputusan atau membentuk opini. PF ingin melihat gambar keseluruhan sebelum masuk ke detail, dan mereka tak menyukai lingkungan terstruktur.

Pemikir Logis
Pemikir logis hidup di dunia teori dan pemikiran. Mereka senang menganalisis. PL sangat jago melakukan penelitian karena mereka bisa menemukan ide dan informasi penting, terutama jika tertata dengan baik. Mereka berpikir secara logis dan rasional serta mengajukan pertanyaan untuk mengetahui kenapa, juga bagaimana, di balik segala hal.

Yang mana gaya berpikir Anda ???


*** Efvy, just sharing ***

Thursday, January 29, 2015

Cahaya Yang Membutakan

Kita memerlukan cahaya untuk melihat dan bergerak. Namun, tidak ada cahaya artinya tidak ada energi untuk melihat sehingga membuat kita tidak bisa bergerak atau bergerak ke arah yang salah. Orang-orang yang hidup dalam kegelapan bergerak acak, tak ada arah yang jelas, tak melihat keindahan. Terkurung dalam ruang yang tertutup rapat, tak ada pergaulan dan interaksi dengan dunia luar, membuat manusia hidup dalam keterasingan dan kegelapan.Untuk melihat, manusia perlu mendatangkan cahaya. Caranya bisa bermacam-macam. Membuka diri, mencari celah, atau membuat api buatan.

Sebaliknya, apabila terlalu banyak cahaya maka seseorang bisa menjadi buta oleh cahaya yang terlalu terang (blinded by the light of what we already see). Suatu ketika dalam hidup ini, Anda akan mengalami masa bersenang-senang, hidup dalam era kejayaan. Dengan kekayaan dan kesuksesan, Anda bisa memiliki apa saja, dan sebagian besar yang Anda kerjakan menuai pujian dari mana-mana. Cahaya yang Anda lihat akan menjadi begitu terang.

Cahaya keberhasilan akan membentuk sebuah peta kognitif (a mental map) sehingga seakan-akan jalan yang Anda lihat itu adalah segala-galanya. Di atas peta itu, manusia akan berjalan dan mendapatkan arahan. Sejarah keberhasilan baru di depan mata, apalagi cahaya itu bersinar terlalu terang. Orang-orang yang disinari cahaya terlalu terang akan terbuatakan oleh cahaya itu sendiri.


*** Efvy in Refleksi Diri ***