Saturday, March 14, 2015

Gaya Berpikir

Setiap gaya berpikir memiliki kekuatan unik yang bisa kita gunakan untuk memahami cara kita belajar dan melihat manfaat dari pemikiran orang lain.

Pemikir Terstruktur
Pemikir Terstruktur memproses informasi dengan cara teratur dan selangkah demi selangkah. Dunia mereka konkret dan nyata, terdiri dari hal-hal yang bisa mereka lihat, sentuh, dengar, rasa, dan baui. Mereka perfeksionis yang berorientasi pada detail dan belajar saat melakukan. PT jago dengan tanggal, fakta, rumus dan daftar.

Pemikir Eksplorasi
Seperti pemikir terstruktur, pemikir eksplorasi hidup dalam dunia yang konkret dan nyata. Tapi, perilaku mereka lebih tidak terstruktur dan menyukai eksperimen. Mereka lebih kreatif dan terbuka pada lompatan intuitif, dan bukan pendekatan PT yang selangkah demi selangkah. Saat mengerjakan proyek, mereka kadang lebih asyik dengan proses daripada hasilnya. Kadang, mereka tak menyadari waktu dan tak bisa menyelesaikan sesuai tenggat waktu, tapi mereka juga mencari cara kreatif baru untuk bertindak dan suka mengeksplor ide-ide dan sistem baru.

Pemikir Fleksibel
Pemikir fleksibel hidup di dunia perasaan dan emosi. Kebanyakan orang menganggap PF sebagai “ramah”. Mereka perlu waktu untuk merenung dan meresapi informasi baru sebelum membuat keputusan atau membentuk opini. PF ingin melihat gambar keseluruhan sebelum masuk ke detail, dan mereka tak menyukai lingkungan terstruktur.

Pemikir Logis
Pemikir logis hidup di dunia teori dan pemikiran. Mereka senang menganalisis. PL sangat jago melakukan penelitian karena mereka bisa menemukan ide dan informasi penting, terutama jika tertata dengan baik. Mereka berpikir secara logis dan rasional serta mengajukan pertanyaan untuk mengetahui kenapa, juga bagaimana, di balik segala hal.

Yang mana gaya berpikir Anda ???


*** Efvy, just sharing ***

Thursday, January 29, 2015

Cahaya Yang Membutakan

Kita memerlukan cahaya untuk melihat dan bergerak. Namun, tidak ada cahaya artinya tidak ada energi untuk melihat sehingga membuat kita tidak bisa bergerak atau bergerak ke arah yang salah. Orang-orang yang hidup dalam kegelapan bergerak acak, tak ada arah yang jelas, tak melihat keindahan. Terkurung dalam ruang yang tertutup rapat, tak ada pergaulan dan interaksi dengan dunia luar, membuat manusia hidup dalam keterasingan dan kegelapan.Untuk melihat, manusia perlu mendatangkan cahaya. Caranya bisa bermacam-macam. Membuka diri, mencari celah, atau membuat api buatan.

Sebaliknya, apabila terlalu banyak cahaya maka seseorang bisa menjadi buta oleh cahaya yang terlalu terang (blinded by the light of what we already see). Suatu ketika dalam hidup ini, Anda akan mengalami masa bersenang-senang, hidup dalam era kejayaan. Dengan kekayaan dan kesuksesan, Anda bisa memiliki apa saja, dan sebagian besar yang Anda kerjakan menuai pujian dari mana-mana. Cahaya yang Anda lihat akan menjadi begitu terang.

Cahaya keberhasilan akan membentuk sebuah peta kognitif (a mental map) sehingga seakan-akan jalan yang Anda lihat itu adalah segala-galanya. Di atas peta itu, manusia akan berjalan dan mendapatkan arahan. Sejarah keberhasilan baru di depan mata, apalagi cahaya itu bersinar terlalu terang. Orang-orang yang disinari cahaya terlalu terang akan terbuatakan oleh cahaya itu sendiri.


*** Efvy in Refleksi Diri ***

Tuesday, January 27, 2015

Bertindaklah Seperti Tikus

Apakah perbedaan antara naluri manusia dengan naluri tikus?
Perbedaan itu digambarkan dengan jelas oleh Spencer Johnson dalam bukunya yang berjudul Who Moves My Cheese. Dalam buku tersebut, diceritakan manusia pada dasarnya adalah makhluk yang terprogram oleh rutinitas. Tindakan-tindakannya dikendalikan oleh kebiasaan-kebiasaan (habit). Artinya, manusia cenderung berorientasi pada masa lalu (kebiasaan-kebiasaan).

Cheese (keju) diartikan sebagai sesuatu yang dicari manusia. Bisa berupa kebahagiaan, makanan, rezeki, harta, atau apa saja. Maka ketika manusia menemukan sesuatu, dan itu berulang-ulang selalu ada di sana, ia pun akan secara otomatis datang ke sana. Mula-mula Anda membentuk kebiasaan tapi lama-lama kebiasaan telah membentuk Anda. Tapi bagaimana bila suatu ketika cheese itu tiba-tiba tidak ada di sana? Manusia cenderung akan komplain, berteriak meminta agar siapa saja yang mengambil mengembalikannya.

Tapi, setelah berhari-hari ditunggu cheese itu tetap tidak ada lagi di sana, mereka memilih diam, mereka seakan kehabisan akal. Satu-satunya yang tersisa tinggal harapan, yaitu harapan cheese itu akan kembali lagi. Maka mereka pun menunggu, dan menunggu, sampai mereka menjadi tua, renta dan bodoh.
Bagaimana dengan tikus?

Tikus selalu digambarkan sebagai hewan yang rajin dan cerdik. Ketika cheese itu tiba-tiba hilang, tikus tidak tinggal diam, melainkan terus bergerak dan mengendus ke depan. Berhari-hari mereka mencari jalan baru, cheese yang dicari tidak ditemukan. Mereka terus bergerak tanpa pernah putus asa. Sampai suatu ketika mereka menemukan cheese di tempat yang sama sekali berbeda.

Dari cerita tersebut, kita bisa mengambil pelajaran. Jangan putus asa, jangan biarkan diri Anda menjadi tua, renta dan bodoh dengan berorientasi pada masa lalu. Beranilah mencoba, melangkah, dan mencari cara-cara baru dan bertindak. Maher Zein dalam salah satu lagunya, mengatakan "InsyaAllah ada jalan".

Allah berfirman dalam surat QS. Ar-Ra'd (13) ayat 11 "Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang merubahnya"



*** Efvy in Refleksi Diri ***
First Post for 2015 (2801)

Friday, December 26, 2014

Anda Mau Pilih Selai Yang Mana?

Sebuah riset yang dilakukan oleh Dr. Sheena Iyengar, profesor manajemen di Columbia University Business School, melakukan penelitian terhadap sekelompok orang yang hanya ditawari untuk membeli sebanyak enam sampel selai, sedangkan kelompok lain diberi 24 kelompok selai. Ternyata, kelompok yang hanya diberi enam jenis selai itu sepuluh kali lipat besar kemungkinannya untuk benar-benar membeli salah satu selai tersebut.
Mengapa?
Karena semakin banyak tersedia pilihan, semakin sulit memilih salah satu, sehingga akhirnya malah tidak memilih yang mana pun.

Itulah yang terjadi bila ada terlalu banyak hal yang harus kita lakukan. Kita tampak sibuk. Kita tampak bergerak ke sana kemari. Tapi pada kenyataannya, sangat sedikit yang bisa kita selesaikan.

Sering kali, bila ada terlalu banyak yang harus kita lakukan, kita malah jadi beku. Atau kita lantas bergerak dengan panik, berputar tanpa arah yang jelas. Karena ketika ada begitu banyak hal yang harus diperhatikan, kita tidak tahu harus mulai dari mana, sehingga akhirnya kita tidak memulainya.

Pada saat-saat seperti itu, kita membutuhkan suatu cara untuk mengurai kabut membingungkan itu. Kita perlu memecah tugas-tugas itu menjadi potongan-potongan dan mulai mendengarkannya.
Bagi kita yang pernah mendengar pertanyaan (pepatah): "Bagaimana cara memakan seekor gajah?"
Jawabannya adalah "memakannya sepotong demi sepotong". Bukan dalam sekali gigit sekaligus.


*** Efvy in Refleksi Diri ***

Friday, December 19, 2014

Rahasia Sukses Michael Jordan

Michael Jordan merupakan pemain bola basket terbaik dunia, dan dia punya pola pikir bertumbuh. Kebanyakan orang sukses juga punya pola pikir demikian. Di sekolah menengah, Jordan dikeluarkan dari tim bola basket. Tapi hal itu jelas tidak membuat dirinya kecil hati: "Sepanjang karierku, tembakanku sudah meleset lebih dari 9.000 kali. Aku sudah kalah dalam hampir 300 pertandingan. Sudah 26 kali aku dipercaya untuk melakukan tembakan pamungkas, dan ternyata aku meleset. Aku sudah bolak-balik mengalami kegagalan dalam hidupku. Dan itulah sebabnya aku sukses". Itulah petikan sebuah wawancara dengan Michael Jordan.

Anak-anak dengan pola pikir yang bersifat tidak berubah lebih cenderung memilih mengerjakan ulang sebuah soal yang mudah ketimbang mencoba yang lebih sulit. Para mahasiswa dengan pola pikir yang bersifat tidak bisa berubah cenderung tidak mau mempelajari bahasa baru.

Otot hanya tumbuh bila kita mengangkat beban yang lebih berat. Kita perlu menggunakan beban yang lebih menantang. 

Jika Anda punya pola pikir bertumbuh, Anda akan menggunakan kegagalan untuk meningkatkan diri. Jika Anda punya pola pikir bahwa segalanya bersifat tidak berubah, mungkin Anda memang tidak pernah gagal, tapi Anda juga tidak pernah belajar bertumbuh.


Kalau kita menganggap masalah/musibah sebagai cobaan, kita hanya akan bertahan. Namun jika kita menganggap masalah/musibah sebagai ujian maka kita akan naik kelas ketika lulus nantinya.



*** Efvy in Refleksi Diri ***

Monday, December 15, 2014

Jam Terbang

Bagi Anda yang pernah mengikuti seminar motivasi ataupun membaca buku-buku tentang meraih kesuksesan, ada 3 syarat yang paling utama dan umum, yaitu:
  1. Memiliki IMPIAN: Anda benar-benar ingin meraihnya
  2. OPTIMIS: Anda yakin bisa meraihnya
  3. Anda BERUSAHA meraihnya
Masalahnya, sebagian besar dan kebanyakan dari kita mengira bahwa yang kita butuhkan hanyalah nomor pertama dan nomor kedua. Namun, justru syarat yang nomor tiga lah yang paling penting. USAHA itulah yang paling kita perlukan untuk mewujudkan impian dan kesuksesan.

Dalam buku Outliers (Karya Malcom Gladwell) membahas riset yang dilakukan di Akademi Musik Berlin. Para periset membagi para mahasiswa biola menjadi tiga kategori: bintang, pemain biola, dan orang-orang yang akan menjadi guru tapi bukan pemain biola. Ternyata, alat peramal nomor satu yang akan memasukkan pebiola mana akan masuk kategori mana adalah jumlah jam bertaltih.

Mereka yang kelak akan menjadi guru telah berlatih selama empat ribu jam sepanjang hidup mereka. Pemain biola yang baik menghabiskan waktu delapan ribu jam. Dan mereka yang masuk kategori bintang? adalah setiap orang dari mereka yang telah berlatih sekurang-kurangnya selama sepuluh ribu jam.

Dan inilah bagian yang paling menentukan: Tidak seorang pebiola pun yang tidak berlatih selama minimal sepuluh ribu jam yang tidak menjadi bintang. Dengan kata lain, berlatih selama sepuluh ribu jam dapat menjamin Anda akan bisa menadi pebiola bintang. Menurut Gladwell, latihan selama sepuluh ribu jam merupakan angka ajaib agar Anda bisa menjadi yang terbaik dalam hal apa pun.



*** Efvy in Refleksi Diri ***

Wednesday, December 10, 2014

Pengaruh Emosi Terhadap Aksi

Amigdala adalah pusat respons emosional otak. Sehingga tatkala terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan di dunia luar, amigdala segera mengeluarkan suatu emosi.
Tapi, emosi yang murni, mentah dan apa adanya sama sekali bukan sumber pengambilan keputusan terbaik. Lantas bagaimana kita bisa melampaui emosi dan menjangkau pemikiran rasional?

Misalnya, ketika sedang terjadi keributan antara Anda dan seseorang, dalam orak Anda terjadi juga keributan antara Anda dan diri Anda sendiri. Dan pertempuran tanpa suara yang terjadi di korteks prafrontal Anda itulah yang berusaha menundukkan amigdala Anda.

Bayangkan saja amigdala itu sebagai makhluk kecil berwarna hitam di kepada Anda yang berkata, "Mending kita hajar saja orang itu!". Sebaliknya, bayangkan korteks prafrontal seperti semacam malaikat kecil yang berwarna putih yang berkata kepada Anda, "Hmmm... tampaknya tidak bagus kalau kamu teriak-teriak. Lagi pula dia tetangga kita."

Kuncinya adalah kendali kognitif atas amgidala itu oleh korteks prafrontal. Lalu, bagaimana kita bisa membantu korteks prafrontal kita agar bisa menang dalam pertarungan itu?

Caranya adalah, "Anda mengambil nafas sejenak, dan menunda tindakan Anda, berarti Anda memberi kesempatan kepada korteks prafrontal untuk mengendalikan respons emosional tersebut.

Mengapa nafas? "Memperlambat nafas Anda memberikan pengaruh menenangkan secara langsung terhadap otak Anda." Dan waktu yang dibutuhkan korteks prafrontal kita untuk mengatasi amigdala kita, Hanya satu atau dua detik."

Ambillah jeda sejenak. Ambillah beberapa nafas. Barulah kemudian bertindak.
Jeda sejenak akan membantu Anda dalam menentukan tindakan berikutnya yang lebih cerdas.

*** Just for sharing ***
Sumber: Buku 18 menit: GM